Cari Blog Ini

Jumat, 12 Januari 2018

Bersabar Pada Kebiasaan Mengompol Anak



Sudah menjadi fitrah bahwa segala hal dalam kehidupan anak diawali dari proses belajar. Begitu lahir, secara refleks ia akan  menangis yang menandakan bahwa paru-parunya mulai berfungsi. Tahap selanjutnya jabang bayi ini memulai kehidupan baru yaitu belajar bertahan hidup dengan menyesuaikan lingkungan. Lalu, ia belajar memenuhi kebutuhan dengan mencari ASI untuk memuaskan rasa laparnya. 

Proses belajar berjalan terus menerus. Ingatkah Bunda ketika ia belajar memasukkan jemari mungilnya ke mulut, tengkurap, berbicara, merangkak, berjalan dan seterusnya?  Ah, masa itu sungguh cepat berlalu. Ia tumbuh pintar dengan sangat cepat. Namun, ketika ia sudah bisa berkomunikasi dengan kita, orang tuanya, seringkali kita lupa bahwa ia tetaplah masih kanak-kanak. Masih banyak yang harus ia ketahui, tapi kita terlalu banyak menuntut pada mereka. 

"Aah, sudah besar kok masih cengeng?"
"Idiih, makan belepotan!"
"Aduuuh, tumpah lagi, kan, minumnya!"
"Huuh, tiap malam ngompooooolll teruss!"

Astaghfirullah,  saya masih sering begini. Ini pasti saya saja yang belum sempurna menjadi ibu. Saya yakin ibu-ibu lain diluar sana jauh lebih hebat, jauh lebih sabar.

Yah, begitulah proses belajar pada anak. Bahkan kita yang sudah dewasa-pun masih terus belajar dalam segala hal. Akui saja, kita juga pernah gagal dalam belajar. Saat wawancara kerja, saat memasak, saat punya gadget baru, saat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, saat mengambil hati mertua, saat belajar mengendarai, dan banyak sekali hal yang harus kita pelajari meskipun usia kita mulai menua. 

Jadi sangat wajar sekali anak melakukan kesalahan yang fatal sekalipun, dalam proses belajar mereka. 

Dalam kehidupannya, anak akan terus belajar hal-hal yang positif. Akan tetapi bukan tidak mungkin ia juga belajar  hal negatif. Seperti kebiasaan baik dan buruk. Mereka tentu belum paham betul apa yang baik dan apa yang buruk jika kita tidak mengenalkan sejak dini.

Kita dapat mengajarkan hal positif dari hal-hal kecil yang sering dilakukan. Misalnya tersenyum, minta tolong dengan baik, berkata sopan, makan dan minum menggunakan tangan kanan, buang sampah pada tempatnya, berdoa, dan lain sebagainya. Akan tetapi yang wajib kita ingat adalah bahwa ini masih proses belajar. Hasil yang diperoleh belum tentu langsung sempurna.

Lain halnya kebiasaan baik, kebiasaan buruk  harus kita tekan agar berkurang dalam melakukannya. beberapa kebiasaan buruk anak misalnya kurang hati-hati, ego sentris, cengeng, mudah marah, belum bertanggung jawab, bermain hingga lupa waktu dan lainnya. 

Dan, kebiasaan buruk yang akan saya bahas disini adalah 'mengompol'. 
Iyess. Anak saya masih mengompol. Dan ini menjadi pe-er besar saya awal tahun ini. Bagaimana mengatasi anak yang suka ngompol dan bersabar pada prosesnya.  

Awal bulan lalu saya sempat membuat resolusi (untuk saya sebagai seorang ibu dengan satu balita) yang salah satunya adalah tentang kebiasaan mengompol pada anak saya. Baca juga https://sabdapendhita.blogspot.co.id/2018/01/langkah-baru-di-tahun-baru.html

Dulu semasa toilet training, Askar sudah bisa kasih kode jika ia ingin 'Pup' sejak usia hampir belum genap 2 tahun, dan saya apresiasi prestasi tersebut.

Lain halnya dengan 'Pee' (pipis/BAK). Hal ini membutuhkan waktu lebih lama untuk saya benar-benar aman lepas diapers dalam kondisi sadar, maksudnya ketika ia tidak sedang tidur. Bahkan sampai akhir tahun lalu (usia anak sudah 4 tahun per september), saya (ibu yang mungkin pemalas, hehehe) masih juga memakaikan diapers saat anak saya tidur (tidur siang, maupun malam hari).

Lalu, saya sebagai ibu yang menerapkan asas berhemat demi kelangsungan hidup harus cerdas mencari peluang berhemat. Salah satunya dengan tidak lagi belanja diapres. Lumayan, berhemat 5 ribu perak perhari. Akhir bulan bisa kipas-kipas tigapuluh lembar lima ribuan, dong!

Akhirnya, Bismillah. Awal tahun ini menjadi awal yang baik untuk menghilangkan kebiasaan ngompol tersebut. Apakah mudah? Belum tentu. Hal semacam inipun butuh perjuangan ekstra.

Hari pertama, kedua, ketiga, sukses, aman terkendali. Si'dia tidak ngompol dengan dibangunkan sekali untuk 'Pee di kamar mandi.

Hari hari selanjutnya, saya lupa gak bangun jadi akhirnya sukses deh, ngompol lagi. Lagi, dan lagi hingga terasa lebih berat karena meskipun sudah dibangunkan dua kali saat tengah malam dan dini hari nyatanya masih juga ngompol tepat sebelum bangun pagi. Ohhh God!

Hampir 2 pekan saya berjuang. Jika ayahnya sedang dirumah, kesempatan saya untuk bermanja minta tolong gendong anak ke kamar mandi di tengah malam. meskipun begitu sesekali masih 'bocor' juga.

Apakah saya menyerah? Tentu tidak! Demi tigapuluh lembar lima ribuan, ehh  kebaikan anak apa sih yang gak dilakukan?

Jangan ditanya nasib kasur saya. Jangan ditanya cucian seprei dan selimut saya. Dan yang paling menyesakkan adalah aroma amonia menguar ke setiap inci kamar tidur kami yang berukuran 3x4 meter itu. Sabaarr.

Baru dua pekan. Saya pernah baca buku parenting bahwa kebiasaan anak itu dapat dirubah dalam waktu 2 pekan. Ini ukuran standart. Bisa jadi setelah 2 pekan ini Askar gak ngompol lagi meski tidak bangun, bisa jadi sebulan dua bulan mendatang kebiasaan itu baru terbentuk. Saabaaarrr.

Baru dua pekan. Masih lebih panjang waktu ketika kami menunggu kehadirannya. Maka untuk itu fardhu 'ain hukumnya untuk bersabar.


Hal apa saja yang harus disiapkan untuk menghilangkan kebiasaan mengompol anak?


Mungkin, beberapa tips berikut dapat dilakukan :
  1. Kurangi konsumsi minum berlebih ketika sudah memasuki malam hari.
  2. Kurangi aktifitas fisik berlebihan pada siang hari (seperti lompat2an yang menjadi favorit anak).
  3. Ingatkan untuk 'Pee sebelum tidur.
  4. Bangunkan mereka waktu malam untuk kencing lagi.
  5. Lindungi kasur menggunakan perlak atau sprei anti air yang sudah banyak terdapat di pasaran.  
  6. Berdoa untuk kelancaran misi.
  7. Beli stok sabar sebanyak mungkin.
Semoga kesabaran ini berbuah manis pada akhirnya. Semangat selalu para emak setrong. Ingat anakmu adalah investasi akheratmu. Yuk, ah, mau bangunin anak dulu untuk 'Pee.

See Ya! 

  
  

Kamis, 04 Januari 2018

Mengejar Atau Dikejar Waktu?

Demi masa, 
Sesungguhnya manusia dalam kerugian.
Kecuali, 
Yang beriman dan mengerjakan amal Sholeh. 
Serta yang tolong menolong dalam kebenaran,
Dan tolong menolong dalam kesabaran.

[Astagfirullah, kami berlindung kepada-Mu dari segala keburukan]



Waktu,
Seringkali manusia lupa bahwa waktu berjalan terus menerus. Detik demi detik. Waktu tak pernah berhenti, tertunda atau kembali. 

Banyak manusia kehilangan waktu tanpa disadari. Usia kita yang tadinya masih kanak-kanak tiba-tiba saja beranjak remaja, kemudian dewasa dan seterusnya hingga tanpa sadar sudah bercucu-cicit. 

Banyak manusia menyalahkan waktu. Karena saking sibuknya, serasa 24 jam sehari semalam belum cukup baginya. "Mengapa tidak dikasih waktu sehari 30 jam aja, sih?” kata mereka. 

Banyak manusia menyia-nyiakan waktu. Bengong, bete, galau, atau malas karena tak punya tujuan hidup.

Waktu,
Seandainya setiap insan tau kapan waktu terbaiknya. Seandainya raga mengerti kapan berpisah dari nyawanya. Sungguh waktu tak akan jadi sia-sia. 

Seperti pagi ini. Saya dikejutkan kabar kemalangan yang menimpa seorang teman. Dia masih muda, seorang suami pekerja keras, seorang ayah dari anak perempuan yang masih balita, seorang teman yang enak diajak bicara, teman memancing kadang juga berburu, teman cerita tentang pekerjaan, teman yang sering mau direpotkan.

Tiga hari yang lalu, teman kami kecelakaan motor. Dia sedang berboncengan dengan temannya. Dia pulang kerja untuk menghidupi keluarganya. Entah bagaimana penanganan pasca kecelakaan tersebut, tau-tau dia koma. Keluarga berupaya segala macam usaha untuk menolongnya. Dibawalah ke sebuah rumah sakit di kotanya. Akan tetapi, pihak rumah sakit menyayangkan terlambatnya kesempatan. Sudah ada penggumpalan darah di otaknya. Dia gegar otak. Ya Allah, dia masih muda.

Operasi tak mungkin dilakukan karena kondisinya sangat kritis. Dan, bagaimana kabar anak istrinya? Segala hal telah diupayakan untuk menolongnya. Dan hanya doa terbaik yang dimohon pihak keluarga untuknya. Semoga salah satu doa tulus dari keluarga dan kolega dapat menyelamatkannya. Semoga Allah memberikan kesempatan kedua padanya.



Waktu,
Selama masih ada usia, kita bisa berbuat sekehendak hati. Tanpa peduli baik buruk, nyatanya seringkali diri ini memilih sesuatu yang menyenangkan. Hidup hanya sekali, kenapa tidak untuk bersenang-senang?

Apabila bertemu kesulitan, ah, hanya kesulitan kecil. Kita dapat mengatasinya. Sering diri ini tidak merasa bahwa kesulitan demi kesulitan bisa jadi adalah sebuah teguran. Colekan mesra dari Rabb kita. Dan tetap kita lanjutkan kehidupan dengan seenaknya. 

Kesulitan bertambah sedikit demi sedikit. Kali ini kesulitan hidup di level 2. Setelah tak lagi sanggup mengatasi, kita lari ke sanak saudara, teman atau kawan. Kesulitan pun teratasi dengan sendirinya. Dan, lagi lagi kita lupa untuk kembali pada-Nya.  

Seorang teman sering mengeluh akan kesulitan hidupnya. Kerja ini itu tiada hasilnya, atau kesembuhan penyakit keluarganya yang tak kunjung ada titik temunya, atau jodoh yang enggan menyapa, dan lain sebagainya. 

Satu jawabannya. Kembalilah pada-Nya. Hanya Dia Sang Pemberi Kemudahan. Tapi kita sering merasa sombong. "Ah, ini belum waktunya. Saya masih muda. Nanti saja kalo sudah tua saya akan lebih rajin berdoa." Nauzubillah.

Jika kesulitan kesulitan di dunia ini masih terlalu remeh, yakin bisa mengatasi dengan tangan kita sendiri, tak masalah. Tapi jika sudah meregang nyawa, apa mau dikata? Siapakah yang bisa menolongnya?

Wahai diri, dimanapun kau berdiri di bumi yaitu ini,
Ketahuilah, waktu yang kita punya tak lebih banyak dari keinginan kita.
Prioritaskan segala urusan. Dan ingatlah tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Bukan untuk tenar, bukan untuk berkuasa, bukan untuk saling menyalahkan, bukan untuk mencari keadilan. 

Beribadahlah. Untuk hidupmu, agar merasa cukup, agar hati tenang, agar Dia senantiasa menolong, agar indah pada akhirnya nanti. 

Waktu,
Tak bisa kita putar ulang laksana jam. Tapi, masih ada kesempatan selama jiwa masih bersatu dengan raga. Jangan siakan dia. Jangan siakan dia.

Sebuah renungan dan tamparan pribadi.
#KeajaibanWaktu 





Selasa, 02 Januari 2018

Langkah Baru Di Tahun Baru


Pekan pertama di bulan pertama tahun 2018 saya rasa belum terlambat untuk membuat resolusi. Seingat saya, dari dulu bisa menulis (SD) sampai saat ini belum pernah sekalipun membuat resolusi tertulis. Lebih sering hanya mengangankan sesuatu yang akan dicapai di tahun tersebut. Dan benar saja, ternyata selalu menjadi angan kosong belaka.

Sebetulnya saat berada di bangku kuliah saya pernah membuat peta mimpi. Dari mulai menginginkan barang-barang tertentu sampai membuat target usia sekian menikah, usia sekian mempunyai sekian buah hati, sampai usia sekian punya bisnis family home theater. Jadi semacam bioskop kecil yang hommy banget untuk nonton film bersama keluarga. Hahaha.

Bisnis apa sih ini? Entahlah apa yang ada di pikir saya waktu itu. Tapi, berbicara bisnis Insyaallah lain waktu akan saya hitung analisis bisnisnya siapa tau bukan hanya mimpi semata. Bisa jadi saya bisa mewujudkan mimpi konyol
super tersebut. Siapa tau prospektif. Aamiin.

Kembali lagi ke resolusi. Saya akan menuliskan capaian yang tak terencana di tahun 2017 silam. Banyak sekali kejutan di sepanjang tahun lalu. Diawali dari kepulangan kami ke kampung halaman suami untuk urusan pekerjaannya hingga keputusan menetap dan membuat hunian di sini.

Awalnya saya kecewa karena saya punya beberapa rencana lain di awal tahun lalu. Tapi kembali lagi saya pikir hunian memang sebuah kebutuhan primer keluarga kecil kami. Dan untuk itu saya mulai merubah impian. Kejutan kedua, saya kembali lagi mengajar setelah setahun memutuskan resign dari sekolah sebelumnya.

Selanjutnya di pertengahan tahun lalu saya mulai tertarik dengan dunia tulis menulis. Saya mulai ikut training KBT dari Indscript, KMO Indonesia, hingga training menulis di Wonderland Creative yang saya ikuti beberapa kali. Alhamdulillah, akhirnya beberapa antologi cerita anak sedang dalam proses terbit di berbagai penerbit.

Tiga hal diatas merupakan capaian saya di tahun lalu. Dari ketiga poin tersebut memang tanpa rencana sama sekali. Bisa dikatakan saya hanya ikut arus air. Hal ini yang membuat saya mulai berpikir untuk serius memetakan mimpi. Saya harus membuat resolusi untuk bisa lebih baik nantinya, Insyaallah.

Bismillah,

Resolusi 2018

Rumah Idaman

Awalnya bagi saya, memiliki rumah idaman sangat sulit karena membutuhkan budget yang sangat banyak. Selain itu, membangun rumah agar bisa lebih murah harus di kampung halaman, padahal saya sudah merencanakan pendidikan anak di sekolah yang saya pilih di Semarang. Akan tetapi rencana tinggal rencana, dan Dia Maha Mengatur segalanya.

Seperti yang telah saya sebutkan di atas bahwa memiliki hunian memang penting, untuk itu hunian menjadi prioritas pertama di tahun ini. Kami tahu, untuk mewujudkannya sangat dibutuhkan kerja keras. Suami saya akan lebih banyak mengambil pekerjaan yang beliau mampu untuk menambah tabungan. Dampaknya saya harus rela waktu bersamanya sedikit berkurang.

Sayapun akan berusaha lebih berhemat. Menekan keinginan belanja yang menggiurkan. Tapi, kalo buku dan training? Oh no ... Saya masih sering kepincut. Hehehe.

Ibadah

Nah, ini poin utama. Sejauh ini saya sering lalai. Mengerjakan ibadah sebatas menggugurkan kewajiban. Astagfirullah. Saya harus berubah. Tahun 2018 saya bertekad untuk menargetkan ibadah yang saya pilih. Sedikit tak masalah yang penting konsisten. Jika yang sedikit ini bisa dilalui dengan baik, Insyaallah akan bertambah. Aamiin. Untuk itu tak ada salahnya saya membuat lembar muhasabah harian. Biasanya sih, saya membuat lembar muhasabah di bulan Ramadhan. Akan tetapi akan saya buat sepanjang tahun ini.

Pekerjaan

Seperti yang telah saya ceritakan di awal. Saya mulai mengajar lagi. Tanpa persiapan. Sebetulnya dulu awal menikah tahun 2009/2010 saya sempet LDR sama suami. Dan di tahun itu keluarga besar kami mendirikan sekolah menengah berbasis pesantren. Saya ikut berpartisipasi dalam mendidik anak murid pertama kami sebagai ibu asrama selama satu tahun.

Tahun kedua pernikahan, saya harus ikut suami ke Semarang dan menetap selama kurang lebih 6 tahun. Di Semarang saya menjadi pengajar di sebuah lembaga pendidikan anak (TK).

Kembali lagi ke pesantren. Saya sudah lama sekali tidak berinteraksi dengan sekolah ini. Tiba-tiba mengajar disana membuat saya gemetaran. Saya bahkan sudah lupa seperti apa materi pelajaran mereka, bagaimana mengolah nilai, bagaimana menampung dan menyalurkan potensi ajaib anak yang berbeda satu dengan yang lainnya. Saya hanya jalani saja pelan-pelan sambil meraba.

Yah, akhirnya resolusi dalam pekerjaan akan saya buat juga. Ini penting. Karena pekerjaan adalah amanah. Terlepas dengan segala kerumitannya. Saya tetap akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.

Resolusi saya untuk ini adalah lebih banyak belajar. Lebih banyak bersabar menghadapi anak didik dan meningkatkan skill mengajar saya agar anak merasa nyaman belajar.

Kesehatan. 

Selanjutnya resolusi tentang diri saya pribadi dan keluarga yaitu kesehatan. Apa sih yang diperlukan untuk hidup sehat? Yang pertama adalah makanan sehat. Insyaallah, akan mulai saya tinggalkan jajanan yang menggoda iman. Beralih ke makanan sehat. Karena kesehatan merupakan faktor penting untuk kita bisa terus berkarya.

Selain makanan sehat, sepertinya tubuh juga perlu olahraga. Duh, hal ini sudah lama sekali saya tinggalkan. Berdalih dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang segunung sehingga tak disempatkan. Padahal menggerakkan badan minimal 10 menit per hari asal rutin sudah bisa membuat badan lebih fresh. Insyaallah.

Hobby

Resolusi selanjutnya. Tentang hobi yang belum lama ini saya tekuni. Yup. Menulis. Pertengahan tahun lalu saya pernah membuat ikrar menulis. Sebetulnya tugas dari kelas kepenulisan. Tapi ternyata dengan mengikrarkan diri sebagai penulis membuat saya selalu semangat belajar.

Waktu itu saya mengucapkan ikrar bahwa bulan Maret tahun 2018 saya sudah berkarya sebuah buku. Alhamdulillah. Meskipun belum ada buku solo, tapi beberapa kelas menulis tahun lalu menerbitkan buku antologi.

Saya akan lebih banyak belajar. Lebih banyak ikut kelas. Banyak sekali yang belum tau dalam dunia kepenulisan ini. Karena awalnya memang modal nekat. Semoga tahun ini bisa lebih produktif.

Anak
Resolusi untuk anak adalah lepas diapers sewaktu tidur. Anak saya sudah usia 4 tahun dan masih sering mengompol. Beberapa hari ini saya sounding untuk lepas diapers-nya. Alhamdulillah, dia mau kerjasama. Sebetulnya pemakaian diapers itu tergantung kesabaran ibunya. Hahaha. Jadi sebetulnya ini PR besar saya sendiri.

Nah, itulah 5 poin resolusi yang saya buat. Semoga dengan menuliskannya saya bisa bersungguh menjalankannya. Dan yang terakhir, harapan terbesar tahun ini adalah 'adek untuk Askar'. Ya. Saya sangat berharap mendapat 'hadiah' hadirnya buah hati di tahun ini. Aamiin.

Ini resolusi ku, mana resolusimu?

Bersabar Pada Kebiasaan Mengompol Anak

Sudah menjadi fitrah bahwa segala hal dalam kehidupan anak diawali dari proses belajar. Begitu lahir, secara refleks ia akan  menangi...